Belajar Dulu sebelum Melaju ke Tingkat Dunia

Belajar Dulu sebelum Melaju ke Tingkat Dunia

Belajar Dulu sebelum Melaju ke Tingkat Dunia

Belajar Dulu sebelum Melaju ke Tingkat Dunia

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)

menunjuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sebagai tuan rumah perhelatan Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2017. Kontes tahunan itu dihelat di Sirkuit Kenjeran Park hingga Sabtu (11/11).

Rabu (8/11), setelah kontes dibuka Direktur Kemahasiswaan Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Didin Wahidin, para peserta mulai menguji mobil hemat energi yang sudah dirancang. Satu per satu tim peserta menuju lintasan.

Tim Sadewa Hore dari Universitas Indonesia misalnya. Mereka terlihat mengutak-atik

mobil seusai turun dari lintasan. Rupanya, mereka sedang meningkatkan performa mobil urban concept-nya. Adrian Rajendra, general manager Sadewa Hore, mengatakan bahwa mobil berbahan bakar pertamax itu butuh evaluasi untuk meningkatkan performanya kembali.

Sementara itu, Neo Mentilen Team dari Universitas Bangka Belitung juga sedang berbenah. Aufar Fathul Karim, manajer tim, mengatakan bahwa timnya baru berpartisipasi pada KMHE tahun ini. Meski begitu, persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. ”Kami berencara ikut KMHE sejak 2016. Jadi, mobil sudah dirancang mulai 2016,” katanya.

Ketua KMHE 2017 Fahmi Mubarok mengatakan, ajang itu digelar untuk mengakomodasi kreativitas mahasiswa

. Mulai merancang, membangun, hingga menguji mobil hemat energi. Mahasiswa diajak untuk mampu membuat mobil hemat energi dengan standar Shell Eco-marathon internasional. ”Kontes ini ibarat tingkat nasional sebelum melaju ke Shell Eco-marathon,” ujarnya.

Sebanyak 80 tim dari 43 perguruan tinggi diundang untuk berpartisipasi. Jumlah itu naik dari 2016 yang hanya melibatkan 60 tim dari 38 perguruan tinggi. Pada KMHE 2017 ada dua kategori yang diusung. Yakni, prototype dan urban concept. ”Dihitung keiritan bahan bakar dan jauh rute yang ditempuh,” tuturnya. Untuk urban concept yang merupakan model city car, juga diperhitungkan sisi ergonomis alias kenyamanan pengendara dan desain.

Secara teknis, para peserta harus melalui lintasan yang ditentukan. Yakni, 8 kali putaran yang tiap putarannya mencapai 1,3 km. ”Dengan 1 liter bahan bakar, dilihat berapa jauh jarak yang ditempuh,” katanya. Sebelumnya, setiap tim harus lulus dalam proses inspeksi teknik. Yaitu, pengecekan rem, klakson, kemampuan putar, kemampuan pengemudi ketika keluar dari bahaya, dan sebagainya.

Menurut Fahmi, agar performa mobil tetap terjaga, setidaknya dibutuhkan kecepatan konstan. Yakni, 30–35 km/jam. Sebab, jika mobil terlalu kencang, bahan bakar yang digunakan juga lebih boros.

Yang pasti, panitia menyeleksi secara ketat. Termasuk tingkat keselamatannya. Itu dilakukan untuk menghindari kendaraan selip, jatuh, oleng, hingga mesin overheat alias terlalu panas. ”Kalau tabrakan jarang terjadi,” jelasnya.

Fahmi menerangkan, KMHE 2017 memang digelar untuk mempersiapkan mahasiswa menuju ajang Shell Eco-marathon di tingkat internasional. Karena itu, panitia memang mengadopsi standar-standar yang digunakan Shell Eco-marathon agar peserta juga lebih siap ke level internasional.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/apa-itu-frase.html