Implikasi Teori-Teori Belajar berasal dari Psikologi Behavioristi

Implikasi Teori-Teori Belajar berasal dari Psikologi Behavioristi

a. Prosedur-Prosedur Mengembangan Tingkah Laku Baru
Di samping penggunaan reinforcement untuk memperkuat tingkah laku, tersedia juga dua metode lain untuk mengembangkan pola tingkah laku baru..

1. Shaping
Kebanyakan yang diajarkan disekolah-sekolah adalah tingkah laku yang kompleks, bukan hanya “simple response”. Tingkah laku yang Kompleks ini bisa diajarkan melalui proses “shaping” atau “successive approximations”, beberapa tingkah laku yang mendekati respons terminal. Proses ini dimulai dengan penetapan tujuan, sesudah itu diselenggarakan pemikiran tugas, beberapa langkah aktivitas murid, dan reinforcement terhadap respons yang diinginkan.

Fraznier (1969) menyampaikan lima cara perbaikan tingkah laku studi murid;
Datang di kelas terhadap waktunya
Berpartisipasi di dalam studi dan merespon guru
Menunjukkan hasil tes-tes dengan baik
Mengerjakan pekerjaan rumah
Penyempurnaan.
2. Modelling
Modelling adalah suatu wujud studi yang tidak bisa disamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modelling, seseorang yang studi mengikuti perbuatan orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi berasal dari terhadap melalui pengajaran langsung.

Modelling bisa terjadi, baik dengan “direct reinforcement” maupun dengan “ vicarious reinforcement”. Bandura (1962) di dalam penelitiannya terhadap tingkah laku kelompok-kelompok anak dengan sebuah boneka plastik pompa mengamati, bahwa di dalam situasi pemainan, “model rewarded group” bereaksi lebih agresif berasal dari terhadap “model punished group”.

Bandura (1969) membagi tingkah laku imitatif menjadi tiga macam;
Inhibitory-disinhibitory effect; kapabilitas lemahnya tingkah laku oleh gara-gara pengalaman tidak menyenangkan atau oleh vicorius reinforcement.
Eleciting effect; ditunjangnya suatu respons yang dulu berjalan di dalam diri, supaya timbul respons yang serupa atau serupa.
Modelling effect; pengembangan respons-respons baru melalui observasi terhadap suatu model tingkah laku.
Modelling bisa digunakan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan akademis dan motorik.

Claririo (1971) menambahkan umpama bagus perihal bagaimana guru pakai modelling untuk mengembangkan minat murid-murid terhadap literatur bahasa inggris. Ia menambahkan umpama membaca buku bahasa inggris, kadang-kadang tertawa terbahak-bahak, tersenyum, mengerutkan dahi, dan sebagainya untuk membangkitkan minat anak terhadap buku itu.

b. Prosedur-Prosedur Pengendalian atau Perbaikan Tingkah Laku
1. Memperkuat Tingkah Laku Bersaing
Dalam usaha membuat perubahan tingkah laku yang tidak diinginkan, diselenggarakan penguatan tingkah laku yang diinginkan andaikata dengan kegiatan-kegiatan kerjasama, membaca dan berkerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, hilir mudik dan melamun.

2. Ekstingsi
Ekstingsi dikerjakan dengan melenyapkan atau mengabaikan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. Ekstingsi bisa dipakai bersama dengan metode lain layaknya “modelling’ dan “social reinforcement”.

Guru-guru kerap mengalami kesulitan mengadakan ekstingsi, gara-gara mereka perlu studi mengabaikan “misbehaviors” tertentu. Tentu saja tersedia jenis-jenis tingkah laku yang tak bisa diabaikan oleh guru-guru terlebih tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid.

Ekstingsi berjalan terlebih kalau reinforcement adalah perhatian. Jika murid mencermati kesana kemari, maka perlu bahan interaksi guru-guru murid akan menghentikan tingkah laku murid itu.

3. Satiasi
Satiasi adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melaksanakan perbuatan berulang-ulang supaya ia menjadi capek atau jera.

4. Perubahan Lingkungan Stimuli
Beberapa tingkah laku bisa dikendalikan oleh pergantian situasi stimulis yang mempengaruhi tingkah laku itu. Apabila murid terganggu oleh nada gaduh di luar kelas, ketukan jendela bisa menghentikan problem itu. Apabila suatu tugas susah mengecewakan murid, maka guru bisa mengganti dengan tugas yang tidak cukup begitu sulit. Jika di kelas tersedia 2 orang murid yang termenung saja, guru bisa menghampiri atau duduk di dekat mereka.

5. Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana. Hukuman bisa mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan di dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menyatakan apa yang tidak boleh dikerjakan murid, sedangkan reward menyatakan apa yang perlu dikerjakan oleh murid.

Bukti menunjukkan, bahwa hukuman atas persoalan perbuatan murid yang tidak patas lebih efisien berasal dari terhadap tidak menghukum.

Ada 2 wujud hukuman;
Pemberian semangat derita, misal; bentakan, cemoohan, atau ancaman
Pembatalan perlakuan positif, misal; mengembil ulang suatu mainan atau menghindar anak untuk bermain-main dengan teman-temannya.
Perlu diingat bahwa hukuman kerap tidak disetujui oleh group rekan sebaya, sia-sialah guru menghukum seorang anak kalau teman-temannya terlihat tidak sepakat terhadap hukuman itu.

Hukuman hendaknya dikerjakan langsung, secara kalem, disertai reinforcement, dan konsisten.

c. Langkah-Langkah Dasar Modifikasi Tingkah Laku
Berikut ini adalah beberapa langkah bagi guru di dalam mengajarkan pemikiran dan modifikasi tingkah laku;
Rumusan tingkah laku yang diubah secara operasional
Amatilah frekuensi tingkah laku yang perlu diubah
Ciptakan situas studi atau treatment supaya berjalan tingkah laku yang diinginkan
Identifikasilah “reinforcers” yang potensial
Perkuatlah tingkah laku yang diinginkan, dan andaikata perlu pakai prosedur-prosedur untuk memperbaiki tingkah laku yang tidak pantas.
Rekam atau catatlah tingkah laku yang diperkuat untuk pilih kekuatan-kekuatan atau frekuensi respons yang telah ditingkatkan.

d. Pengajaran Terprogram
Pengajaran terprogram menerapkan prinsip-prinsip “operant conditioning” bagi studi manusia di sekolah. Pengajaran ini berjalan layaknya halnya paket pengajaran diri sendiri yang menyajikan suatu topik yang disusun secara teliti untuk dipelajari dan dikerjakan oleh murid. Tiap-tiap pekerjaan murid langsung diberi “feedback”.

Program bisa tertuang di dalam buku-buku, mesin-mesin mengajar, atau computer (Computer Asisted Instruction).

Pada tahun 1950, pengajaran terprogram telah dipraktekkan. Sebagian pendidik percaya bahwa wujud pengajaran baru ini akan memperbarui pengajaran, studi lebih efisien dan tugas-tugas guru lebih terarah. Di lain pihak, banyak guru yang khawatir, bahwa mesin-mesin akan menukar manfaat mereka.

Sejak akhir tahun 1950 hingga dengan 1960, wujud pengajaran ini mengalami banyak kritik dan ulasan, supaya terhadap tahun 1970 para pendidik menyimpulkan, bahwa pengajaran terprogram bisa dipakai, tetapi manfaat di era mendatang adalah melengkapi program pengajaran guru.

Mesin mengajar dikembangkan pertama kali oleh Sidney Pressey (1926). Saat itu mesin bukan untuk mengajar, melainkan untuk testing multiple choice.

Pada tahun 1954, B. F. Skinner menerbitkan sebuah paper berjudul “ The Science of Learning and The Act of Reading” Paper ini berisikan hasil percobaan modifikasi tingkah laku hewan dan manusia, prinsip-prinsip “operant conditioning” dan metode-metode pengajaran otomatis. Paper ini menambahkan dasar teoristis dan menghimbau penggunaan pengajaran terprogram.

Pengajaran terprogram berupaya memajukan studi dengan;
Memerinci bahan pelajaran menjadi unit-unit kecil
Memaksa murid mereaksi unit-unit kecil itu
Memberitahukan hasil studi secara langsung, dan
Memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri
Ada bermacam macam pengajaran terprogram, antara lain;
Program linear; program ini dikembangkan oleh Skinner. Penyusun Program pilih urut-urutan aktivitas murid untuk merampungkan program. Tiap bagian program berisi perincian kecil pengetahuan.
Program intrinsik atau “branching program”; Program ini dikembangkan oleh Croder (1960). Dalam program ini respons-respons murit pilih route atau arah aktivitas murid itu. Rute-rute alternatif disebut “branches” yang merupakan prediktor-prediktor masalah yang akan memperbaiki respons murid, Croder pakai pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda.
Penelitian oleh Nilberman, dkk (1961) Roe (1960) tidak bisa menyatakan model program mana yang lebih baik berasal dari lainnya.

Ada 3 perbuatan pokok murid di dalam belajar, yakni;
Review
Underlining, dan
Note taking
Beberapa kritik terhadap metode pengajaran terprogram, antara lain;
Kurang mengembangkan kreativitas,
Kurang menambahkan pengalaman humanisasi,
Kurang memberi kesempatan untuk merespons dengan beragam aktivitas.

e. Program-Program Pengajaran Individual
Prinsip-prinsip pengajaran terprogram telah ditetapkan di dalam program-program pengajaran individual. Program pengajaran individual telah dikembangkan terhadap beberapa instansi pendidikan seperti;
Program for Learning in Accordance With Needs (PLAN), terhadap Westinghouse Corporation;
Individually Guide Education (IGE), terhadap Pusat Penelitian dan Pengembangan Belajar Kognitif-Unversitas Pittsburgh.
Sejak tahun 1960, program-program tersebut dikerjakan terhadap sekolah-sekolah di seluruh Amerika Serikat.

Projek PLAN adalah suatu program pengajaran individual di bidang bahasa, matematika, ilmu ilmu sosial, dan ilmu ilmu alam. Program disusun di dalam wujud unit-unit studi mengajar dengan rumusan tujuan, bahan pelajaran, dan cara-cara untuk capai tujuan pelajaran.

Tiap-tiap unit studi mengajar dimulai dengan tujuan studi yang akan dicapai oleh murid, baru sesudah itu aktivitas belajarnya. Aktivitas studi terdiri atas bahan-bahan pelajaran, pertanyaan tes, dan pertanyaan-petanyaan diskusi. Apabila murid bisa merampungkan tes-tes dengan baik, ia melanjutkan studi terhadap unit-unit berikutnya. Apabila ia gagal, ia berkonsultasi dengan guru.

Sistem PLAN pakai computer yang mereka siapkan demi tiap-tiap kemajuan dan performance murid. Dengan program pengajaran individual, murid-murid studi secara maju berkelanjutan menurut kapabilitas dan minat mereka.

f. Analisis Tugas
Komponen-komponen pengajaran penting menurut pandangan behavioral adalah keperluan akan;
Perumusan tugas atau tujuan studi secara bahavioral,
Membagi “task” menjadi “subtasks”
Menentukan interaksi dan ketetapan logis antara “subtasks”
Menetapkan bahan dan prosedur mengajar tiap-tiap “subtasks”dan
Memberikan “feedback” terhadap tiap-tiap penyelesaian “subtasks” atau tujuan-tujuan terminal.
Salah satu fungsi guru yang paling utama sehabis ia pilih tujuan ialah menganalisis tugas (langkah 2 & 3 di atas). Analisis tugas akan menopang guru di dalam membimbing studi murid.

Bagi penyusun program, pemikiran tugas menopang pilih lapisan bahan pelajaran di dalam mesin mengajar. Perencanaan kurikulum bisa menyesuaikan kronologis unit-unit belajar.

Dalam proses pemikiran tugas kita perlu mengestimasi “entry behavior” murid. Keterampilan-keterampilan yang telah dimiliki oleh murid tak usah diajarkan lagi. Melalui prestesting dan modifikasi di dalam pemikiran tugas, kita akan bisa mengembangkan pengajaran yang lebih baik.

Packard (1975) menyarankan, supaya di dalam menganalisis tugas kita menggolongkan “entry behavior” murid berdasarkan pengenalan kita perihal murid. Kemudian menggolongkan keterampilan-keterampilan lain sebagai tujuan-tujuan perantara ke arah tujuan terminal.

Gagni (1977) mengemukakan, bahwa beragam model studi di dalam hierarki interaksi berdasarkan terhadap asumsi, bahwa tingkat-tingkat studi yang lebih rendah. Gagni mengedepankan pentingnya pemikiran tugas terhadap awal pelajaran. Tiap model studi perlu trik mengajar yang berbeda.

Dalam mengembangkan pemikiran tugas Gagni memberi saran supaya guru menanyakan di dalam hati; apa yang ia dambakan untuk murid lakukan? Apa yang diperlukan oleh murid untuk melakukannya?

g. Suatu Pendekatan Belajar Tuntas
Bloom (1968) menyampaikan penguasaan studi murid-murid. Kebanyakan (barangkali 90%) bisa menguasai apa yang perlu diajarkan oleh guru kepada mereka. Berikut ini sebuah outline trik studi tuntas menurut Bloom (1971);
Pelajaran terbagi atas unit-unit kecil untuk satu atau 2 minggu pelajaran
Bagi tiap-tiap unit, tujuan instruksional dirumuskan dengan jelas
Learning tasks di dalam tiap-tiap unit diajarkan dengan pengajaran group reguler
Pada tiap-tiap akhir unit studi diselenggarakan tes-tes diagnostik (formative tests) untuk pilih apakah murid-murid telah menguasai unit belajar, andaikata belum apa yang masih perlu dikerjakan oleh murid
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan belajar, bisa dipakai prosedu-prosedur; beberapa group di dalam kelompok-kelompok kecil, membaca ulang bagian-bagian tertentu, pakai bahan-bahan terprogram dan audio-visual aids, dan juga penambahan, waktu belajar. Setelah itu bisa diselenggarakan retesting. Bilamana unit-unit terselesaikan, suatu tes akhir (summative tes) diselenggarakan untuk pilih nilai pelajaran terhadap si murid.
Strategi Bloom tidak serupa berasal dari pengajaran kelas konvensional gara-gara menekankan;
Penguasaan unit-unit studi kecil
Penggunaan tes diagnostik
Prosedur-prosedur korektif untuk mengatasi kesulitan studi murid
Bloom (1973) menyampaikan bukti, bahwa program studi tuntas mengembangkan minat dan sikap positif terhadap mata pelajaran.

h. Pemikiran Tentang Modal Belajar Mengajar
Modal studi mengajar menunjukkan, bahwa perbedaan individual akan mempengaruhi keputusan-keputusan metodologi guru. Prinsip-prinsip “operant conditioning” dan pemikiran tugas terlaksana dengan berhasil terhadap beragam macam murid di beragam situasi belajar. Untuk mengadakan pemikiran tugas, guru perlu menyadari tujuan instruksional.

Analisis tugas bermanfaat untuk rencana program pendidikan individual sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu murid.

Belajar tuntas pakai pemikiran tugas untuk pengelolaan kelas, gara-gara menambahkan prinsip-prinsip perbuatan guru yang efektif.

Akhir-akhir ini para psikologi telah menerapkan konsep-konsep kognitif dan humanistik untuk mengembangkan pendekatan yang disebut cognitive behavior modification. Metode baru ini pakai modelling dan verbalized self instruction. teks eksplanasi

Demikianlah ulasan perihal Implikasi Teori-Teori Belajar berasal dari Psikologi Behavioristik, yang terhadap kesempatan ini bisa dibahas dengan singkat. Untuk tidak cukup lebihnya mohon maaf dan semoga bermanfaat bagi para pembaca ataupun pengunjung.

Baca Juga :