Keterampilan Berpikir Calon Guru Menyambut MEA

Keterampilan Berpikir Calon Guru Menyambut MEA

Mungkin kita sama-sama pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara ini. Nemo dat quod habet, verba movement exempla trahunt. Kurang lebih jikalau diartikan, bermakna tidak seorangpun menambahkan berasal dari apa yang tidak dimilikinya, kata-kata itu menggerakkan, tapi teladan lebih memikat hati. Kata-kata ini tentu berdimensi luas, sehingga kita mampu menguraikan dan menghubungkannya dengan banyak aspek, seandainya adalah mengenai pendidikan, sistem pembelajaran, guru, maupun calon guru.

Keterampilan Berpikir Calon Guru Menyambut MEA

Mengapa perlu pendidikan, sistem pembelajaran, guru, maupun calon guru? Tentu kita sudah mahfum bahwa tatkala Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen diberlakukan, maka guru menjadi jadi bergengsi dan guru menjadi profesi yang banyak dicita-citakan masyarakat. UU Guru dan Dosen menandakan bahwa profesi guru merupakan profesi terbuka yang memasang Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai “produsen guru”. LPTK bertindak sebagai penyelenggaraan pendidikan bagi guru yang tentu perlu dipacu untuk terus-menerus tingkatkan kualitas, baik berasal dari segi sumber kekuatan manusia, fasilitas, sarana, dan prasarananya.

Sehubungan dengan itu, saat ini keliru satu isu yang banyak mengambil alih perhatian publik adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Apabila berhadapan dengan MEA, dapat amat banyak yang perlu dipersiapkan. Ini lumrah sebab nantinya kita berhadapan dengan orang-orang berasal dari luar negeri. Oleh sebab itu SDM perlu lebih baik dan siap hadapi semua tantangan itu. Ketika berbicara maslaah SDM, maka tentu tidak lepas berasal dari peran guru sebagai aktor utama. secara otomatis pula, saat berbicara guru maka tidak lepas berasal dari bagaimana LPTK mencetak atau buat persiapan mereka selama menjadi mahasiswa (calon guru).

Wagiran (2009) dengan tahu sudah mengingatkan bahwa lembaga pendidikan (termasuk termasuk LPTK pencetak calon guru) perlu memengaruhi orientasinya dengan tidak cuma melatih mahasiswa menguasai suatu ketrampilan, tapi lebih berasal dari itu termasuk perlu buat persiapan mereka untuk punya kekuatan adaptasi yang baik pada kompetisi global, disamping perlu punya prinsip ethical yang baik, mau hidup berdampingan dengan baik di dalam penduduk yang multikultur, multireligi, dan multi etnis. Dengan demikianlah peran dan faedah yang pas berasal dari pendidikan adalah membangkitkan potensi mahasiswa untuk menjadi parah dan kemampuan/keterampilan berpikir yang tinggi di samping menambahkan ketrampilan tehnis untuk bekerja. Pendidikan tidak ulang diamati sebagai upaya buat persiapan seseorang (peserta didik) untuk memasuki era depan, tapi sebagai suatu sistem sehingga seseorang mampu “hidup” kapanpun, dimanapun, dan di dalam kondisi apapun.

Inti berasal dari gambaran Wagiran selanjutnya adalah perlunya sistem pendidikan dan sistem pembelajaran yang buat persiapan peserta didik untuk punya kemampuan/keterampilan berpikir yang tinggi. Pada titik inilah maka kata-kata bijak di awal postingan ini menjadi penting. Bagaimana mungkin guru-guru dapat mencetak generasi bangsa yang punya keterampilan berpikir saat sang guru sendiri tidak jadi biasa dengan keterampilan berpikir? Itu bermakna sistem pembelajaran di LPTK-LPTK perlu didesain sedemikian sehingga mengasah dan membiasakan mahasiswa untuk tangkas berpikir. Pertanyaannya adalah apakah keterampilan berpikir itu? Bagian selanjutnya ini dapat menguraikan perihal tersebut.

Keterampilan Berpikir

Pengertian berpikir mengacu pada serentetan proses-proses kesibukan merakit, menggunakan, dan melakukan perbaikan model-model simbolik internal (Gilhooly, 1982). Keterampilan berfikir diarahkan untuk memecahkan masalah, mampu dilukiskan sebagai upaya mengeksplorasi model-model tugas pembelajaran di kelas sehingga model-model itu menjadi lebih baik dan memuaskan. Terkadang jenis mampu mendorong para pemikir untuk berpikir lebih jauh berdasarkan informasi perseptual yang mantap yang diperoleh berasal dari lingkungannya (Bruner, 1957).

Keterampilan berpikir mampu didefinisikan sebagai sistem kognitif yang dipecah-pecah ke di dalam langkah-langkah nyata yang lantas digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu misal keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kekuatan untuk menghubungkan beragam arahan (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk mengakibatkan suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama sistem kognitif inferring perlu dipecah ke di dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang dapat dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang sudah diketahui sebelumnya, dan (d) mengakibatkan perumusan prediksi hasil akhir (Duta, 2014).

Menurut Duta (2014) terkandung tiga istilah yang mengenai dengan keterampilan berpikir, yang sebetulnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (high level thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir parah (critical thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak diperlukan pada proses-proses berpikir yang terjadi di dalam short-term memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi meliputi evaluasi, sintesis, dan analisis. Berpikir kompleks adalah sistem kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian. Berpikir parah merupakan keliru satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan berasal dari berpikir parah adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar berasal dari suatu titik.

Keterampilan berpikir termasuk dikenal dengan istilah habits of mind dan thinking skills. Sedikit berbeda dengan pendapat Duta di atas, Marzano (1994) mengungkap bahwa habits of mind mampu dikelompokkan di dalam 3 kategori, yaitu self regulated thinking, critical thinking dan creative thinking. Pertama, Self Regulated Thinking, terdiri berasal dari a) tahu pemikirannya sendiri, b) mampu mengakibatkan rencana yang efektif, c) tahu dan mengfungsikan sumber-sumber infomasi yang amat berguna, d) sensitif pada umpan balik, dan e) mengevaluasi keefektifan tindakannya.

Kedua, Critical Thinking terdiri berasal dari a) bersikap akurat dan melacak akurasi, b) tahu dan melacak kejelasan, c) bersikap terbuka, d) menghambat diri berasal dari karakter impulsif, e) mampu memasang diri saat ada jaminan, dan f) bersikap sensitif dan tahu kekuatan pengetahuan temannya.

Ketiga,Creative Thinking, terdari berasal dari a) mampu melibatkan diri di dalam tugas meskipun jawaban dan solusinya tidak langsung nampak, b) lakukan usaha memaksimalkan kekuatan dan pengetahuannya, c) membuat, mengfungsikan dan melakukan perbaikan standar evaluasi yang dibuatnya sendiri, dan d) menghasilkan langkah baru di dalam lihat lingkungan dan batasan yang berlaku di masyarakat.

Melirik Hasil Penelitian

Husamah (2015) sudah lakukan Penelitian Pengembangan Ipteks (P2I) yang dilakukan dengan judul Blended Learning Terintegrasi PjBL untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir dan Kesadaran Metakognitif Mahasiswa Baru Pendidikan Biologi. Penelitian ini dilakukan di Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universi Muhammadiyah Malang. Penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015.

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa baru (semester I) Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang yang menempuh matakuliah Pengantar Pendidikan, kelas A, B, C, dan D. Jumlah mahasiswa per kelas rata-rata adalah 50 orang. Dua kelas pertama sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang mengfungsikan Blended learning namun dua kelas lainnya sebagai kelas kontrol yaitu kelas yang mengfungsikan metode pembelajaran konvensional (pembelajaran tatap muka layaknya biasa, tugas makalah, dan diskusi). Sedangkan yang berperan sebagai pengelola pembelajaran adalah peneliti sendiri (pengampu mata kuliah).

Penelitian pengembangan mengfungsikan prosedur atau langkah-langkah penelitian berasal dari Borg & Gall yang dimodifikasi cocok dengan keperluan dan kondisi lapang. Untuk lihat Keterampilan Berpikir mahasiswa maka digunakan Angket Keterampilan Berpikir yang diadaptasi berasal dari Marzano (2000) dan sudah diujicobakan/digunakan di awalnya di dalam penelitian lain oleh Husamah dan Pantiwati (2013). Peneliti memperbandingkan 2 kelompok, dimana group pertama diberi perlakuan dan group yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut group eksperimen dan group yang tidak diberi perlakuan disebut group kontrol. Untuk memperbandingkan signifikansi perbedaan keterampilan berpikir antara kelas yang mengfungsikan Blended learning terintegrasi PjBL dengan yang tidak mengfungsikan dilakukan pengujian statistik dengan dukungan SPSS for Windows.

Hasil penelitian membuktikan bahwa jenis pembelajaran Blended Learning Terintegrasi PjB efisien tingkatkan keterampilan berpikir mahasiswa semester 1 (mahasiswa baru). Ada perbedaan yang signifkan antara keterampilan berpikir group eksperimen dengan group non eksperimen.

Berdasarkan penelitian Husamah (2015) selanjutnya dan berdasarkan gambaran literatur sebagaimana sudah dilakukan di awalnya maka sudah semestinya para dosen di LPTK menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project based learning/PjBL) dan dipadukan dengan tren pembelajaran era kini yaitu blended learning. Bila ikhtiar layaknya ini digalakkan maka upaya kita untuk mencetak calon-calon guru yang tangguh dan siap hadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sebab punya bekal keterampilan berpikir yang kuat, dapat mampu tercapai.

Akhirnya, perlu diingat bahwa pada dasarnya pembelajaran-pembelajaran yang berorientasi untuk tingkatkan keterampilan berpikir mampu dengan gampang dilakukan. Namun selama ini kondisi pembelajaran yang ada di umumnya di Indonesia belum begitu menunjang untuk terlaksananya pembelajaran ketrampilan berpikir yang efektif. Alasannya jelas, kita amat mapan dengan pola lama/konvensional dan amat malas untuk berubah. Lalu hingga kapan kita dapat layaknya itu, saat tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata? Wallahu a’lam.