Liburan Keluarga

Liburan Keluarga

Liburan Keluarga

Liburan Keluarga

Komaruddin Hidayat

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Sekarang ini agenda liburan keluarga semakin ngetren. Kebutuhan keluarga tidak sekadar fokus pada sandang, papan, dan pangan seperti zaman kakek-nenek dulu, tetapi juga menyangkut kebutuhan akan pendidikan dan liburan. Anda akan menjumpai banyak turis lokal berbaur dengan asing di tempat objek wisata Indonesia.

Bahkan di luar negeri pun akan mudah ditemui turis-turis Indonesia. Mereka tidak semuanya datang dari keluarga menengah ke atas secara ekonomi, tetapi banyak keluarga menengah ke bawah yang sengaja menabung untuk berwisata ke luar negeri, layaknya menabung untuk biaya perjalanan umrah atau haji.

Sesungguhnya kebutuhan berlibur itu sejak dulu sudah dirasakan dan dilakukan. Namun, sekarang objeknya diperluas. Bahkan telah menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle). Badan dan pikiran itu butuh istirahat serta merasakan suasana baru yang menyegarkan sehingga di Indonesia liburan sering disebut rekreasi (re-creation).

 

Berkat kemudahan moda transportasi dan sumber informasi

membuat masyarakat semakin tertarik mengeksplorasi objek-objek wisata ternama dan kota-kota besar dunia, baik di dalam maupun luar negeri.

Berkaitan dengan meningkatnya minat masyarakat melakukan wisata, maka agen-agen perjalanan juga tumbuh pesat. Mereka berlomba menawarkan jasa, informasi, dan harga untuk menarik pembelinya.

Wisata yang paling ramai adalah perjalanan umrah-plus. Di samping untuk menunaikan ibadah umrah di Mekkah, yang menjadi daya tariknya adalah tambahan wisata ke kota lain, seperti Yerusalem, Istanbul, Mesir, atau Spanyol. Mereka ingin melihat warisan sejarah, keindahan alam, dan keunikan kotanya.

Bagi kehidupan rumah tangga, wisata keluarga ini sangat berguna untuk menyegarkan suasana baru, memotong kebiasaan dan rutinitas yang kadang membosankan serta membelenggu pikiran sehingga membunuh kreativitas. Ini dilakukan tidak mesti jauh-jauh ke luar negeri dengan biaya mahal. Terpenting ada jeda dari kungkungan rutinitas, lalu menghirup udara dan suasana lain.

 

Dalam perjalanan rombongan

seseorang akan mengenal lebih jauh karakter orang lain, terutama ketika dihadapkan problem di perjalanan. Apakah seseorang punya rasa empati, apatis, egois, penolong, sabar, problem solver, dan semua itu akan terlihat dalam perjalanan terutama ketika muncul masalah, misalnya, ada salah satu anggota rombongan sakit, jadwal perjalanan meleset, kehilangan uang, dan lainnya.

Coba saja perhatikan ketika dihadapkan makanan yang tidak disukainya, apakah seseorang langsung mengkritik makanan yang sudah tersedia atau berusaha menikmati jatah rezeki hari itu. Anak-anak dan orang tua perlu membiasakan untuk tidak mencela makanan yang sudah terhidang, apa pun rasanya, karena akan mengurangi nikmat dan rasa syukur pada Tuhan.

Selain itu, juga menyakiti yang memasak dan menghidangkannya, kalau saja mereka tahu. Kalau memang tidak suka tak usah dimakan, tapi jangan disertai cercaan.

Tentang etika makan ini ada beberapa pengalaman dan pembelajaran yang menarik dari negeri orang. Beberapa restoran di Manila dan Jerman, misalnya, kalau menyisakan makanan di piring akan didenda. Jadi, bayarnya lebih mahal dari tarifnya. Bahkan ada yang disindir, di belahan bumi lain banyak orang kelaparan, mengapa Anda tega-teganya membuang makanan? Sebaliknya, kalau makanan habis bersih tak ada yang tersisa, maka akan memperoleh diskon.

 

Praktik seperti ini sesungguhnya sejalan dengan nasihat Rasulullah

agar jangan menyisakan makanan di piring. Ambillah makanan sebanyak yang bisa dihabiskan. Pendeknya, ketika tersedia makanan dan kita bebas mengambilnya, entah di hotel atau acara pesta, mengambil sedikit demi sedikit itu lebih baik ketimbang sekali mengambil banyak namun tidak dihabiskan.

Itu soal makanan. Dalam liburan keluarga, orang tua juga memiliki kesempatan melatih anak-anaknya untuk mengurus diri sendiri sejak dari check in di bandara dan berbagai keperluan di perjalanan, serta melatih mereka berkomunikasi dengan orang asing. Jadi, di samping untuk rekreasi dan merasakan kebersamaan dalam perjalanan, liburan juga untuk mendidik anak-anak bertanggung jawab pada diri sendiri dan beradaptasi tinggal di luar rumah sendiri.

“Human being is a traveller being,” kata orang. Manusia adalah sosok “wanderer”, makhluk yang senang jalan-jalan melakukan pengembaraan. Itu akan sangat menyenangkan ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat, yaitu keluarga.

Baca Juga :