Angka Ujian Tidak Mencerminkan Kecerdasan Anak

Angka Ujian Tidak Mencerminkan Kecerdasan Anak

Angka Ujian Tidak Mencerminkan Kecerdasan Anak

Angka Ujian Tidak Mencerminkan Kecerdasan Anak

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, dengan kondisi siswa Indonesia saat ini, s

ebaiknya ada perubahan pembelajaran. Guru tidak lagi fokus mengajarkan materi, tetapi harus fokus pada kemampuan siswa.

“Saran saya harus mulai back to basic lagi. Ubah pola pembelajaran. Jangan fokus pada mengajar untuk mengejar angka karena angka-angka tidak konsisten. Nah, yang terjadi saat ini kita selalu terbuai dengan angka-angka seakan-akan itu adalah kecerdasan anak,” cetus Indra Minggu (11/11).

Menurut dia, butuh pemahaman dari orang tua bahwa tidak ada manfaat yang siginifikan

pada anak yang mendapat nilai 100, apabila ia tidak memiliki kemampuan. Kondisi ini merupakan tantangan besar bagi bangsa dengan kondisi guru-guru yang tidak paham konsep serta kepala daerah yang tidak menjadikan pendidikan sebagai target utama.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Indonesia (UI),Muhammad Anis, mengatakan, matematika adalah salah satu subjek yang penting berkaitan dengan kemampuan membangun logika. Segala jenis keilmuan pasti memerlukan logika berpikir dan masing-masing orang memiliki tingkatan yang berbeda.

“Matematika orang bidang teknik pasti berada pada matematika lanjut, bukan hanya matematika dasar

. Kita lihat memang sekarang kita harus sampaikan kepada anak didik itu bagaimana cara yang menyenangkan, jangan sampai jadi momok,” kata Anis di kampus UI Depok, Sabtu (10/11).

Ia menyarankan para guru untuk mengajar matematika jangan langsung fokus pada rumus tetapi harus coba menyesuaikan dengan konteksnya.

Sebelumnya, peneliti dari Research on Improvement of System Education (RISE) 2018, Niken Rarasati, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh pihaknya, Indonesia saat ini sedang darurat matematika. Hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan siswa memecahkan soal matematika sederhana tidak berbeda secara signifikan antara siswa baru masuk sekolah dasar (SD) dan yang sudah lulus sekolah menengah atas (SMA).

Rendahnya kemampuan matematika Indonesia ini juga terlihat dari hasil The Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2000 hingga 2015. Secara konsisten, PISA menempatkan siswa Indonesia yang berusia 15 tahun pada peringkat bawah dibandingkan negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lainnya.

 

Sumber :

https://daftarpaket.co.id/