Besaran Gaji Guru, Ketum IGI: Masih Ada Unsur Penghinaan

Besaran Gaji Guru, Ketum IGI: Masih Ada Unsur Penghinaan

Besaran Gaji Guru, Ketum IGI Masih Ada Unsur Penghinaan

Besaran Gaji Guru, Ketum IGI Masih Ada Unsur Penghinaan

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, mengungkapkan

, pihaknya tetap fokus memperjuangkan agar semua guru bisa berstatus PNS, PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), atau GTY (Guru Tetap Yayasan).
Berita Terkait
Sleman Naikkan Honor GTT/PTT, Daerah Lain?
Jutaan Guru Indonesia Masih Belum Sejahtera
Fadli Zon Soroti Hari Guru Nasional Namun Guru Belum Sejahtera

Harus ada solusi untuk memuliakan guru dan membebaskan mereka dari status honorer. Sebab, status guru honorer, dengan pendapatan Rp 100 ribu per bulan bahkan kurang dari itu, sesungguhnya adalah penghinaan terhadap profesi guru.

“Guru harus dibebaskan dari status honorer. Jangan boleh lagi mereka digaji Rp 100 ribu per bulan

. Itu sangat merendahkan dan menghina profesi guru,” kata Ramli, Rabu (6/11/2019).

Dia menjelaskan, sistem honorer harus dihapuskan sehingga tidak ada lagi guru yang mengisi ruang kelas statusnya tidak jelas. Harus jelas statusnya, apakah PNS, PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) atau GTY.

Pendapatan guru minimal mencapai upah minimum yang ditetapkan pemerintah berdasarkan minimal kelayakan hidup.

Dia menambahkan, IGI harus memandang pendidikan secara menyeluruh

. Tidak hanya berdasarkan kepentingan kelompok apalagi sekadar kepentingan pribadi. IGI harus menjadi solusi bukan menjadi bagian dari masalah.

Soal pembelajaran bahasa Inggris, menurut Ramli, itu hanya alat. Tidak boleh jadi ilmu buat semua siswa. Cukuplah bagi yang mau menekuninya.

Jika dia alat, maka harus tuntas pada level pendidikan paling dasar, yaitu SD, sehingga bisa digunakan pada level pendidikan selanjutnya.

“Jika nanti S2, baru bisa jadi tools (alat), kapan digunakannya?” tandas Ramli Rahim.

 

Baca Juga :