Flu Burung Tidak ditularkan melalui konsumsi Daging Ayam

Flu Burung Tidak ditularkan melalui konsumsi Daging Ayam

Flu Burung Tidak ditularkan melalui konsumsi Daging Ayam

Flu Burung Tidak ditularkan melalui konsumsi Daging Ayam

Unggas merupakan sumber pakan asal hewan yang paling digemari di Indonesia, terbukti dengan banyaknya konsumsi bahan pakan asal unggas di Indonesia yang melebihi konsumsi pakan asal hewan lainnya seperti daging sapi, kambing, domba dan ikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai literature bahwa pada tahun 1999 konsumsi daging ayam sebesar 355.864 ton, tahun 2002 sebesar 376.125 ton, tahun 2006 sebesar 424.979 ton dan Pada tahun 1999 konsumsi telur sebesar 719.299 ton, tahun 2002 sebesar 760.254 ton, tahun 2006 sebesar 859.000 ton. Selain merupakan sumber pakan, daging unggas juga berpotensi sebagai sumber penularan penyakit melalui makan ( food borne disease).

Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan terhadap pangan yang dikonsumsi, mengkonsumsi pangan yang aman merupakan hal yang harus diperhatikan oleh produsen dan konsumen. Berdasarkan UU Pangan No. 7 tahun 1996, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (Ardiansyah. 2006). Pangan yang aman adalah pangan yang tidak mengandung bahaya biologi atau mikrobiologi, bahaya kimia, dan bahaya fisik.

Bahaya biologis atau mikrobiologis terdiri dari virus, parasit (protozoa dan cacing), dan bakteri patogen yang dapat tumbuh dan berkembang di dalam bahan pangan, sehingga dapat menyebabkan infeksi pada manusia (Ardiansyah. 2006). Adanya virus dalam makanan atau bahan pangan masih belum banyak yang diteliti dan diidentifikasi. Namun informasi tentang virus Avian Influensa telah diketahui dapat mencemari air dan udara serta unggas itu sendiri. Adanya cemaran tersebut akan mengakibatkan infeksi pada manusia jika kontak dengan unggas yang terinfeksi atau mengkonsumsi daging atau jeroan unggas yang tidak dimasak dengan baik.

Dilihat dari kemunculan kasus saat ini, flu burung memang telah mengalami penurunan jumlah kasus. Namun demikian, Wabah flu unggas telah memporak-prandakan bisnis peternakan di Indonesia dan juga di Asia pada beberapa tahun terakhir. Tak terhitung berapa besar kerugian yang harus ditanggung para peternak, karena pemusnahan yang memang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran. Selain itu, muncul isu-isu dan ketakutan luar biasa untuk mengkonsumsi daging unggas sehingga perlu dilakukan acara-acara dimana para pemuka masyarakat diabadikan sedang mengkonsumsi daging ayam agar masyarakat tidak khawatir berlebihan tertular oleh virus flu melalui makanan dari daging unggas.

Dari para korban sakit maupun meninggal karena terinfeksi oleh virus penyebab flu burung ini, ternyata semuanya tertular melalui kontak langsung dengan unggas. Sampai saat ini belum ada laporan tentang adanya korban manusia yang tertular melalui makanan. Agaknya saat ini kasus infeksi virus ini pada manusia lebih banyak merupakan occupational hazard bagi pekerja pengelola ternak unggas ketimbang sebagai kasus food borne illness melalui makanan. Artikel ini mengulas tentang virus, bagaimana bisa ditemukan dalam bahan pangan dan cara-cara penanganan dan inaktivasinya dalam bahan pangan agar tidak menyebabkan sakit pada manusia.

Ketika avian influensa (AI) dikenal sebagai suatu penyakit yang menular terutama mempengaruhi unggas dan manusia. Otoritas Keselamatan Makanan Eropa (EFSA) secara terus-menerus mengevaluasi bukti yang ilmiah berkenaan dengan AI dan keselamatan makanan. Panel ilmiah EFSA tentang resiko biologi (biohazzard) baru saja menerbitkan suatu laporan yang ilmiah mengenai makanan sebagai sumber yang mungkin pada infeksi virus avian influensa yang sangat pathogenic untuk manusia dan hewan mamalia lainnya (European Food Safety Authority. 2006). Analisis perbandingan dokumen ilmiah, apakah mengkonsumsi makanan yang tercemar oleh virus avian influensa pathogen (AI) dapat menyebabkan virus bisa memulai infeksi pada mamalia lewat rute saluran pencernaan. Catatan yang menguji secara detil data yang ada pada AI, dan H5N1 khususnya, belajar berbagai aspek dari transmisi virus dalam hubungannya dengan makanan dan saluran gastrointestinal masih perlu penelitian dan pengkajian lebih lanjut walaupun kemungkinan itu selalu ada. Sebagai contoh, ada penelitian yang menunjukkan bahwa kucing menjadi terkena infeksi ketika memakan ayam yang terinfeksi avian influensa. Dokumentasi lebih lanjut juga menunjukkan bahwa harimau mungkin dapat terinfeksi dengan cara yang serupa karena diberi makan bangkai ayam yang segar dari suatu rumah jagal. Berdasarkan pada Laporan ini, kucing (bangsa kucing) sepertinya secara relatif peka terhadap strain H5N1 dan mungkin telah terkena infeksi setelah mengkonsumsi bangkai dari ayam yang terkena infeksi. Berbagai jenis virus telah dilaporkan dapat bertahan dalam bahan pangan dalam rentang waktu relatif lama dan menyebabkan penyakit pada manusia yang mengkonsumsinya.

Virus asal pangan (food borne viruses) umumnya berukuran 25-30 nm dan yang paling besar mencapai 75 nm. Kebanyakan virus yang ditularkan melalui makanan mengandung materi genetika berupa RNA. Virus pada bahan pangan jika menyebabkan penyakit pada manusia umumnya memerlukan waktu inkubasi yang panjang. Artinya jarak waktu konsumsi dan waktu timbulnya gejala penyakit cukup lama sehingga pelacakan terhadap makanan penyebab penyakit ini cukup sulit ditelusuri.

Baca Juga :