Memandang Guru, Memandang Waktu

Memandang Guru, Memandang Waktu

Memandang Guru, Memandang Waktu

Memandang Guru, Memandang Waktu

Waktu saya SMP, ada seorang kakak kelas yang suka bikin onar. Bharoto,

namanya. Posturnya tinggi tegap, ototnya padat liat. Ruang Guru BP pun jadi tempat nongkrong rutinnya, setara dengan musala bagi saya. Ehem!

Suatu siang, entah waktu bolos atau apa, Bharoto dan kawan-kawannya main basket. Tiba-tiba, bola basket nyelonong masuk ke satu ruang kelas, padahal di situ sedang berlangsung pelajaran Biologi.

Guru Biologi kami seorang perokok berat, berwajah dingin, dan berlengan kekar.

Sebutlah namanya Pak Hartono. Melihat bola basket nyasar masuk ke kelasnya, Pak Hartono tetap tenang. Diambilnya bola itu, dibawanya keluar. Kemudian ia memanggil Bharoto yang cengengesan. “Mari ikut saya,” katanya.

Oleh Pak Hartono, Bharoto diajak ke halaman belakang sekolah yang sepi. Setiba di sana,

Pak Hartono berhenti. Dengan suaranya yang berat, Pak Guru Biologi berkata kepada si murid bengal (sebagaimana belakangan Bharoto ceritakan ke banyak kawan),

“Sekarang, kita lupakan dulu hubungan antara guru dengan murid. Kita berhadapan sebagai laki-laki. Ayo, serang saya!”

Bharoto melongo. Mungkin sedikit ngompol. Tapi sejak hari itu, Bharoto lumayan sembuh dari bengalnya.

 

Baca Juga :